Pusat Studi Linkungan Ubaya

Riset

Detail Penelitian

Publikasi: The First International Seminar on Sustainable Infratructure and Built Environment in Developing Countries (SIBE 2009), Bandung, 2-3 November 2009
Peneliti: Maria Prihandrijanti
Detail Penelitian:
Dewasa ini, Indonesia menghadapi masalah air bersih yang serius akibat kenyataan bahwa air limbah domestik, efluen dari industri, air larian dari pertanian dan sampah dibuang secara tidak layak dan mencemari air permukaan dan air tanah. Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat sambungan perpipaan limbah dan cakupan sanitasi yang terendah di Asia (World Bank, 2003). Hanya sepuluh kota yang memiliki sistem perpipaan limbah dan instalasi pengolahan air limbah, sisanya membuang air limbah tak terolah ke badan air. Suatu sistem pengelolaan air limbah sustainable (berkelanjutan) sangat diperlukan untuk memecahkan masalah ini. Banyak sistem sanitasi dewasa ini yang bersifat “disposal-based linear systems” (sistem linear berbasis pembuangan akhir) di mana semua air limbah dibuang ke badan air. Sistem pengolahan tradisional yang linear harus diubah menjadi sistem lingkaran tertutup untuk mendorong konservasi air dan sumber daya nutrien. Solusi untuk ini salah satunya adalah sanitasi ekologis, Ecological Sanitation (Ecosan), yang menganggap ekskreta manusia dan limbah cair dari rumah tangga bukan sebagai limbah tapi sebagai sumberdaya yang bisa di-recover, diolah jika perlu dan dapat dipakai lagi secara aman. Dengan menutup siklus air limbah, air limbah dapat dipakai lagi secara efisien. Limbah yang berbeda memiliki potensi penggunaan ulang yang berbeda pula. Blackwater (limbah dari tinja dan faeces) memiliki kandungan nutrien yang tinggi sehingga berpotensi besar untuk dipakai lagi sebagai pupuk di pertanian. Greywater (air limbah cucian dan mandi) dapat diolah lagi untuk air bilasan toilet, irigasi dan pengisian ulang air tanah. Di samping itu, ekskreta manusia juga merupakan sumber potensial untuk biogas. Melalui upaya-upaya ini, beban pencemaran di lingkungan dapat banyak dikurangi dan nutrien yang diambil dari ekskreta manusia dapat dipakai lagi di pertanian untuk mendukung ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk mineral.
Kata kunci: Ecosan, Indonesia, reuse, sustainable, air limbah