Pusat Studi Linkungan Ubaya

Detail Berita

SOLUSI SAINTIFIK TERHADAP BERBAGAI PERMASALAHAN DALAM INDUSTRI BIOPROSES (LINGKUNGAN)YANG MENUNJANG IMPLEMENTASI BLUE ECONOMY

Jumat, 7 Maret 2014

PSL UBAYA:

Permasalahan yang timbul dalam industri bioproses (lingkungan) pada umumnya disebabkan karena faktor biaya yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Faktor biaya mempunyai keterkaitan dengan teknologi yang digunakan. Sudah kita ketahui bersama, berbagai kegiatan di bidang industri dan kehidupan sehari-hari dapat menimbulkan permasalahan di bidang lingkungan. Blue economy diyakini melebihi Green economy, yang dalam implementasinya berpihak pada “zero waste”. Untuk dapat menerapkan proses produksi dan mengelola limbah yang berasal dari kehidupan sehari hari menjadi “zero waste”, dibutuhkan inovasi yang menuntut kreativitas dan juga modal manusia. Green economy mempunyai konsep hubungan antara ekonomi, masyarakat, dan lingkungan dan melibatkan transformasi proses produksi , pola produksi dan konsumsi yang berkontribusi untuk mengurangi limbah, polusi dan penggunaan sumber daya. Dengan demikian, Green economy akan berkontribusi pada kesempatan kerja, keberlanjutan, pengurangan kemiskinan dan “equity. Blue economy lebih menekankan pada respon terhadap kebutuhan dasar dengan apa yang kita punya, memperkenalkan inovasi yang terinspirasi oleh alam. Blue economy menekankan untuk mengubah cara kita menjalankan proses industri dan menyelesaikan masalah lingkungan, fokus pada pemakaian biaya energi tinggi dan bahan bahan yang jarang ada dengan menggunakan teknologi yang lebih sederhana dan bersih. Penekanan ini tidak ada bedanya dengan green economy. Hanya saja, blue economy memiliki konsep “waste does not exist”. Jika ada produk samping,maka menjadi sumber untuk produk baru, dan diupayakan apa yang menjadi limbah dapat di biodegradasi. Bisnis yang berkelanjutan mengoptimalkan pemakaian bahan dan energi yang mengurangi biaya per unit untuk customer.
Jika kita melihat pada Gambar 1 tentang proses produksi yang terjadi, maka ada dua kategori proses produksi. Proses yang memang produk sampingnya masih dapat digunakan lagi sehingga menghasilkan “zero waste”, dan proses yang setelah dilakukan upaya 3 R ( reduce, reuse dan recycle) atau lebih dikenal produksi bersih, masih menghasilkan produk samping yang memang sudah tidak dapat diupayakan untuk menjadi “zero waste”. Produk samping ini dikenal dengan limbah, ada limbah yang dapat di biodegradasi dan ada juga limbah yang tidak dapat dibiodegradasi. Untuk limbah cair, limbah yang tidak dapat dibiodegradasi umumnya apabila limbah tersebut mempunyai perbandingan COD/BOD ( chemical Oxygen Demand , Biological Oxygen Demand) yang lebih besar dari 6. Berbagai teknologi untuk mengelola limbah yang dapat dibiodegradasi sudah dikembangkan, demikian juga untuk limbah yang tidak dapat di biodegradasi. Kuncinya, terletak pada efisiensi yang menekan biaya.

Upaya efisiensi untuk pengolahan limbah cair dilakukan dengan melakukan efisiensi untuk unit pengolahan limbah dan mikroorganisme. Pada unit pengolahan limbah , efisiensi yang dapat dihasilkan adalah efisiensi energi pada peralatan ( desain aerator, pompa) dan bangunan ( pilihan desain konstruksi dan bahan). Sedangkan efisiensi yang dapat dilakukan pada mikroorganisme adalah dengan melakukan pengembangan mikroba secara bioteknologi untuk menghasilkan mikroorganisme yang tidak banyak mengkonsumsi oksigen ( dapat diukur dengan parameter dissolved Oxygen), ketahanan yang baik dan pertumbuhan biomassa yang tidak terlalu cepat, sehingga tidak membutuhkan biaya lebih besar untuk mengelola sludge yang dihasilkan.
Tantangan yang dihadapi untuk implementasi blue economy terletak pada human capital inequality. Di masa yang akan datang, human capital inequality akan tetap ada jika tidak dilakukan intervensi terhadap salah satu dari dua komponen penyebabnya income inequality (ketidak setaraan pendapatan) saat ini dan human inequality saat ini. Kita tidak dapat berbuat apa-apa dengan ketidak setaraan pendapatan karena ini adalah kenyataan, tetapi kita dapat melakukan intervensi terhadap human capital inequality melalui program pendidikan, kesehatan agar kesenjangan dari ilmu pengetahuan yang ada dan juga masalah kesehatan dapat diatasi. Salah satu persyaratan untuk implementasi blue economy adalah inovasi dan kreatifitas tinggi. Kita tidak dapat berinovasi dengan kreatifitas yang baik apabila knowledge gap, kesenjangan pendidikan dan kesehatan masih menjadi permasalahan saat ini.

Disampaikan oleh Prof. Ir. Lieke Riadi, Ph.D pada Seminar Nasional Bioteknologi 2014, Universitas Surabaya

Download SOLUSI_SAINTIFIK_TERHADAP_BERBAGAI_PERMASALAHAN_DALAM_INDUSTRI_BIOPROSES__LINGKUNGAN_YANG_MENUNJANG_IMPLEMENTASI_BLUE_ECONOMY.pdf