Pusat Studi Linkungan Ubaya

Detail Berita

Seminar The Carbonomics of Climate Change: Looking Beyond Kyoto and Copenhagen

Rabu, 21 April 2010

PSL UBAYA:

Pada tanggal 5 Maret 2010, Pusat Studi Lingkungan (PSL) dan Pusat Studi Bisnis dan Industri (CBIS) Universitas Surabaya bekerjasama dengan Australian Trade Commission – Australian Embassy telah menyelenggarakan seminar dengan topik  THE CARBONOMICS OF CLIMATE CHANGE : LOOKING BEYOND KYOTO & COPENHAGEN. Seminar yang diselenggarakan di Gedung Serba Guna Fakultas Ekonomi Kampus UBAYA Tenggilis ini dihadiri oleh 108 orang, sebagian besar berasal dari mahasiswa dan staf internal Ubaya. Dari pihak industri yang hadir 46 orang dari berbagai Industri di Surabaya dan sekitarnya.
Narasumber dalam seminar ini, yakni Professor Janek Ratnatunga, MBA, PhD (Bradford), Dip. M, FCA, CPA, CMA, adalah pimpinan dari School of Commerce di University of South Australia. Selain itu beliau juga banyak mengajar di berbagai perguruan tinggi lain di Australia dan USA serta menduduki berbagai jabatan profesional lain, khususnya di bidang Management Accounting. Beliau juga merupakan Editor dari jurnal internasional, Journal of Applied Management Accounting Research dan telah menulis banyak sekali buku dan professional paper.
Dalam presentasinya Prof. Ratnatunga menyampaikan berbagai implikasi dari Kyoto Protocol dan kegagalan Copenhagen Summit dalam rangka berupaya memperlambat laju terjadinya pemanasan global. Sebagai langkah awal untuk menstabilkan emisi karbondioksida global, Kyoto Protocol telah memberikan beberapa mekanisme internasional untuk menekan terjadinya pemanasan global, seperti Joint Implementation (JI), Clean Development Mechanism (CDM) dan International Emission Trading (IET). Namun Kyoto Protocol akan berakhir pada tahun 2012. Diselenggarakannya Copenhagen summit yang semula berupaya untuk memperpanjang Kyoto Protocol ini ternyata mengalami kegagalan dalam sejumlah area perekonomian, misalnya di pasar finansial, perdagangan internasional, supply-chain management, analisa biaya dan pelaporan finansial. Banyak negara, lembaga bisnis dan individu yang belum siap untuk memenuhi tantangan ini. Di sisi lain, terlepas dari keberhasilan atau kegagalan Kyoto Protocol dan Copehagen Summit untuk memperlambat laju terjadinya pemanasan global, kita – baik sebagai individu maupun perusahaan/organisasi – juga seharusnya dapat menekan carbon footprint kita murni berdasarkan pada asas moral/etika, misalnya melalui perubahan gaya hidup. Prof. Ratnatunga juga memaparkan tentang bagaimana paradigma yang dewasa ini semakin berkembang juga mengarah pada bagaimana memenuhi kebutuhan energi sekarang ini tanpa semakin mempercepat laju pemanasan global. Jadi di samping berbagai skema/mekanisme yang dipaparkan di Kyoto Protocol dan Copenhagen Sumit, misalnya tentang skema perdagangan karbon, respon perilaku berdasarkan moral/etika juga sangat diperlukan agar pemanasan global tidak semakin parah

Download Seminar_The_Carbonomics_of_Climate_Change__Looking_Beyond_Kyoto_and_Copenhagen.pdf