Pusat Studi Linkungan Ubaya

Detail 'Tahukah Anda?'

Kembang Api dan Pencemaran Lingkungan

Selasa, 4 Januari 2011

PSL UBAYA:

Perayaan memasuki tahun yang baru kemarin baru
saja kita lalui. Pasti banyak dari kita yang
ikut merayakannya dengan menyalakan - atau
paling tidak cukup dengan menonton- kembang api.
Penggunaan kembang api dalam berbagai perayaan
akhir-akhir ini semakin menjamur. Namun
pernahkah Anda berpikir tentang dampak
penggunaan kembang api ini terhadap lingkungan
dan kesehatan?
Kembang api pada awalnya ditemukan di Cina
sekitar abad ke-12 dengan tujuan awal pada waktu
itu adalah untuk mengusir roh-roh jahat.
Komponen utama kembang api adalah bubuk mesiu.
Dalam perkembangan selanjutnya teknologi kembang
api semakin maju, sehingga dapat memberikan efek
dan tampilan yang semakin indah dan mengagumkan.
Namun ternyata di balik semua itu, kembang api
juga berdampak terhadap lingkungan.

Kembang api menghasilkan asap dan debu yang
dapat mengandung sisa-sisa logam berat, senyawa
belerang-batubara dan sedikit bahan kimia
beracun. Produk samping dari pembakaran kembang
api ini bervariasi, tergantung campuran bahan
penyusunnya. Warna hijau misalnya, dihasilkan
dari berbagai senyawa Barium yg sebagian
beracun. Senyawa-senyawa tembaga yang dipakai
untuk menghasilkan warna biru dapat menghasilkan
dioxin yang berkaitan dengan kanker. Cadmium,
lithium, antimon, rubidium, strontium, timbal
dan kalium nitrat juga banyak dipakai untuk
menghasilkan berbagai efek, meskipun mereka
dapat menyebabkan berbagai masalah pernafasan
dan gangguan kesehatan.
Beberapa nelayan telah melaporkan efek residu
kembang api terhadap ikan dan kehidupan air
lainnya, karena kadang kembang api mengandung
senyawa beracun seperti antimoni sulfida. Namun
hal ini memang masih diperdebatkan karena
kemungkinan asal polutan dari sumber lain juga
bisa. Tingkat toksisitas residu kembang api juga
ditentukan oleh banyaknya bubuk mesiu yang
digunakan, jenis oxidizer, warna yang dihasilkan
dan metode peluncuran kembang api. Kembang api
juga mengandung senyawa perklorat yang sangat
mudah larut dalam air. Bahkan dalam konsentrasi
yang sangat rendah di supply air minum,
perklorat dapat menghambat pengambilan iodine
(I2) oleh kelenjar tiroid. Yang jelas,
penggunaan kembang api akan meninggalkan sampah
padat dari sisa-sisa penyalaan kembang api, baik
yang mudah maupun yang sukar terurai. Sampah
padat ini akan mengotori perairan maupun
tanah/daratan tempat serpihan-serpihan tersebut
jatuh.
Para ahli masih terus berusaha menemukan
teknologi kembang api yang lebih baik dan lebih
ramah lingkungan. Namun demikian, beberapa
alternatif dari penggunaan kembang api
sebenarnya juga sudah ada, misalnya penggunaan
sinar laser juga dapat menghasilkan efek yang
mengagumkan untuk memeriahkan perayaan sebagai
ganti kembang api, dan juga lebih ramah
lingkungan.

Sumber:
http://www.associatedcontent.com/article/2539471/fireworks_and_your_health.html
http://environment.about.com/od/healthenvironment/a/toxicfireworks.htm
http://inventorspot.com/articles/chemists_develop_environmentally_11678
http://www.backcountryattitude.com/toxic_fireworks.html
http://www.thedailygreen.com/environmental-news/latest/fireworks-alternatives-460608
Download Kembang_Api_dan_Pencemaran_Lingkungan.pdf